Sumber : Google.com

β€œHhmm, apakah Mama, mengetahui apa itu pangan yang reaktif?”

Pangan yang reaktif (Food Reactions) merupakan pangan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh seseorang, khususnya untuk anak autis mampu menyebabkan munculnya gejala autis. Pangan yang reaktif dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu food allergie, food sensitivity, dan food intolerance. Untuk anak autis pangan yang reaktif menyebabkan munculnya gejala penyakit autis adalah kelompok food sensitivity dan food intolerance.

Banyak didapati anak autis sangat suka dan tidak bisa lepas dari konsumsi makanan produk susu dan gluten. Akan tetapi, konsumsi makanan tersebut ternyata mampu memberikan pengaruh negative bagi sebagian anak autis. Adanya senyawa peptide seperti opiate (Opiate-like peptide) dalam makanan yang dikonsumsi anak autis mampu menyebabkan gejala-gejala autis, seperti tertawa pada saat yang tidak tepat, ingin makan terus, dan tahan terhadap rasa sakit. Kasein, kedelai, dan gluten mengandung jenis protein yang bersifat seperti senyawa opiate terhadap otak. Senyawa tersebut berbentuk molekul yang berukuran besar, yang secara normal tidak mampu dicerna secara sempurna. Kebanyakan anak autis justru sangat suka untuk mengkonsumsi produk susu dan gandum, dan mereka menolak untuk mengonsumsi makanan lain, misalnya buah dan sayur. Mereka menolak makanan lain karena makanan tersebut tidak memberikan otak mereka, senyawa sejenis opiate. Hal inilah yang menyebabkan munculnya sifat ketagihan pada makanan produk susu dan gandum.

Senyawa peptide yang mirip opiate memiliki pengaruh pada otak yang terlibat dalam kemamuan berbicara dan proses pendengaran (auditory), sehingga menyebabkan anak dalam kondisi social withdrawal. Anak akan memiliki dunia sendiri dan mengasingkan diri dari lingkungan, yang tampak bahwa dia akan tertawa tanpa alasan dan berbicara tidak jelas.

Ketagihan pada Anak Autis

Makanan yang mengandung senyawa peptide mirip opiate mampu menyebabkan ketagihan untuk terus mengkonsumsi makanan tersebut, misalnya konsumsi produk susu dan gluten. Apabila susu dan gluten dieliminasi dari menu diet secara langsung, maka anak autis akan marah-marah atau mengamuk.  

Oleh karena itu, orangtua harus mengananinya dengan bijaksana. Orangtua cobalah untuk memberikan inovasi makanan sampingan, dengan mengurangi porsi makanan produk susu dan gluten. Secara bertahap porsi yang dieliminasi semakin banyak, dan membuat kreasi makanan substitusi yang menarik. Di samping itu, peemberian berbagai jenis makanan baru yang beragam perlu dilakukan untuk mengenalkan berbagai jenis makanan, sehingga kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi.

Langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. Experiment
  2. Cobalah untuk memperkenalkan makanan alternative yang tidak mengandung gluten, casein dan gula berlebih.

  3. Explore
  4. Banyak mempelajari tentang makanan yang sebaiknya dikonsumsi dan yang sebaiknya dihindari (misalnya : gluten, produk susu, dan produk dengan gula yang berlebihan). Hal tersebut dapat dicari pada buku, website, atau video di YouTube.

  5. Create
  6. Buatlah kreasi makanan yang menarik hati bagi anak, sehingga anak dapat mengenal berbagai jenis makanan.

  7. Shop
  8. Mulai mengurangi membeli makanan yang mengandung gluten dan susu, ketika anak tidak mendapatkan suplai makanan tersebut anak akan terbiasa untuk mengurangi konsumsi makanan tersebut, walaupun diawal anak akan memebrikan respon negative.

  9. Eliminating
  10. Mulai menghilangkan konsumsi makanan produk guten dan susu, dengan tidak memberikan makanan tersebut, dan berikanlah makanan substitusi yang memberikan rasa yang sejenis.

Sumber :

Winarno, F. G. 2014. Autisme dan Peran Pangan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Generation Rescue. 2017. Your Complete Guide to Autism and Nutrition Diets to Explore.

Tinggalkan Balasan

Close Menu